Beberapa hari lagi kita akan memasuki momentum Old and New. Beralih dari 1992 ke 1993. Manusia di seluruh dunia siap-siap berpesta, membeli terompet-terompet, menyiagakan segala sarana kerianggembiraan yang gegap-gempita di ruang-ruang tertutup maupun di jalan-jalan protokol.
Adapun di markas KPMb, yang mulai tumbuh dan menggetarkan batin para warganya adalah justru keprihatinan. Yang mereka persiapkan adalah "Tahajjud Old and New", suatu upacara introspeksi, acara membaca diri, berkaca, memohon ampun kepada Allah dan memohon ke depan.
Tahun baru tidak terjadi pada setiap 1 januari. Tahun baru terjadi di dalam kesadaran setiap orang. Bagi manusia yang kesadarannya mandek, setiap 1 januari berlalu tidak sebagai tahun baru, tidak sebagai kelahiran dan semangat baru. Bagi manusia yang frekuensi kesadarannya tinggi, yang semesta keinsyafan hidupnya luas melebihi alam, setiap hari adalah 1 januari.
Ada manusia gerobak, amat lamban dan terbata-bata ia memindahkan dirinya dari wilayah lama ke wilayah baru. Ada manusia sepeda, manusia kendaraan bermotor, ada manusia pesawat terbang, dan ada manusia buraq. Yang satu mengangkut dirinya dari suatu galaksi ke galaksi lain selama bertahun-tahun, yang lain memerlukan waktu hanya beberapa hari atau bahkan beberapa saat.
Itu tidak tergantung takdir Allah yang berbeda-beda atas orang yang tidak sama. Melainkan tergantung pada kesadaran dan semangat khilafahnya dalam mendayagunakan potensi-potensi yang di anugerahkan oleh Allah dalam di dalam diri mereka masing-masing.
Ada manusia fisis atau manusia biologis. Urusannya tiap hari adalah menghabiskan waktu untuk mengerjakan fungsi mata wadak, telinga wadak, kaki wadak, dan seluruh badan wadak. Ia mencari, mencuri, menjilat, merampok, atau mengemis uang sebanyak-banyaknya sekadar untuk meladeni kesadaran-kesadaran wadak-nya.
Ia tidak belajar mengenali mata uang dari Allah, yang bisa ia pakai untuk mengurus penglihatan yang sejati, pendengaran yang batini, kaki-tangan yang ruhani, serta eksistensi wujud yang izzati. Kala tahun baru bilogis tiba, yang ia ajak berpesta adalah wadak-wadak-nya. Mereka bersorak-sorai dan mengibar-ngibarkan segala sesuatu yang tidak menolong mereka di masa depan kehidupan sejati mereka.
Bahkan ada manusia yang karena hanya mengenal kesadaran biologis, maka Tuhan pun mereka biologiskan. Masjid, batu-batu, kaca, tikar, nama islam, shalat dan sarana-sarana peribadatan lainnya mereka sembah-sembah. Lantai masjid di sapu-sapu, batin mereka tidak. Rumah ibadat mereka bangun, kepribadian mereka tidak. Agama mereka sembah, Allah tidak.
Oleh karena itu dengan penuh rasa bersalah dan berdosa kepada Allah, anak-anak KPMb menyambut 1993 dengan tahajjud bersama. Salah satu hasil tulisan mengenai pesantren di bacakan sebagai alat renungan bersama.
markesot
karya Emha Ainun Najieb
Minggu, 30 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar