Beberapa hari lagi kita akan memasuki momentum Old and New. Beralih dari 1992 ke 1993. Manusia di seluruh dunia siap-siap berpesta, membeli terompet-terompet, menyiagakan segala sarana kerianggembiraan yang gegap-gempita di ruang-ruang tertutup maupun di jalan-jalan protokol.
Adapun di markas KPMb, yang mulai tumbuh dan menggetarkan batin para warganya adalah justru keprihatinan. Yang mereka persiapkan adalah "Tahajjud Old and New", suatu upacara introspeksi, acara membaca diri, berkaca, memohon ampun kepada Allah dan memohon ke depan.
Tahun baru tidak terjadi pada setiap 1 januari. Tahun baru terjadi di dalam kesadaran setiap orang. Bagi manusia yang kesadarannya mandek, setiap 1 januari berlalu tidak sebagai tahun baru, tidak sebagai kelahiran dan semangat baru. Bagi manusia yang frekuensi kesadarannya tinggi, yang semesta keinsyafan hidupnya luas melebihi alam, setiap hari adalah 1 januari.
Ada manusia gerobak, amat lamban dan terbata-bata ia memindahkan dirinya dari wilayah lama ke wilayah baru. Ada manusia sepeda, manusia kendaraan bermotor, ada manusia pesawat terbang, dan ada manusia buraq. Yang satu mengangkut dirinya dari suatu galaksi ke galaksi lain selama bertahun-tahun, yang lain memerlukan waktu hanya beberapa hari atau bahkan beberapa saat.
Itu tidak tergantung takdir Allah yang berbeda-beda atas orang yang tidak sama. Melainkan tergantung pada kesadaran dan semangat khilafahnya dalam mendayagunakan potensi-potensi yang di anugerahkan oleh Allah dalam di dalam diri mereka masing-masing.
Ada manusia fisis atau manusia biologis. Urusannya tiap hari adalah menghabiskan waktu untuk mengerjakan fungsi mata wadak, telinga wadak, kaki wadak, dan seluruh badan wadak. Ia mencari, mencuri, menjilat, merampok, atau mengemis uang sebanyak-banyaknya sekadar untuk meladeni kesadaran-kesadaran wadak-nya.
Ia tidak belajar mengenali mata uang dari Allah, yang bisa ia pakai untuk mengurus penglihatan yang sejati, pendengaran yang batini, kaki-tangan yang ruhani, serta eksistensi wujud yang izzati. Kala tahun baru bilogis tiba, yang ia ajak berpesta adalah wadak-wadak-nya. Mereka bersorak-sorai dan mengibar-ngibarkan segala sesuatu yang tidak menolong mereka di masa depan kehidupan sejati mereka.
Bahkan ada manusia yang karena hanya mengenal kesadaran biologis, maka Tuhan pun mereka biologiskan. Masjid, batu-batu, kaca, tikar, nama islam, shalat dan sarana-sarana peribadatan lainnya mereka sembah-sembah. Lantai masjid di sapu-sapu, batin mereka tidak. Rumah ibadat mereka bangun, kepribadian mereka tidak. Agama mereka sembah, Allah tidak.
Oleh karena itu dengan penuh rasa bersalah dan berdosa kepada Allah, anak-anak KPMb menyambut 1993 dengan tahajjud bersama. Salah satu hasil tulisan mengenai pesantren di bacakan sebagai alat renungan bersama.
markesot
karya Emha Ainun Najieb
Minggu, 30 Mei 2010
Sabtu, 29 Mei 2010
Bersama Orang Miskin
Anas ra. berkata, "Ada orang dari pedalaman bernama Zahir ibn Haram. Ia datang ke Madinah untuk suatu kebutuhan. Dari kampung ia bawakan keju atau samin untuk Rasulullah
SAW. Jika hendak menemui keluarga, Rasulullah menyiapkan itu dengan kurma dan sebagainya. Nabi menyukainya. Beliau bersabda, "Zahir itu orang kampung kita, dan kita akan membuatnya berperadaban." Zahir seorang yang dekil.
Suatu hari, Zahir keluar dari kampungnya. Ia mendatangi rumah Rasulullah, tetapi tidak mendapati beliau. Karena saat itu sedang membawa barang-barang dagangan, ia akhirnya pergi ke pasar.
Mengetahui hal itu, Nabi menyusul ke pasar dan mencarinya. Zahir dijumpai tengah menjual barang-barang dagangannya. keringat bercucuran. Pakaian yang dikenakan mencirikan orang kampung, baik dari bentuk maupun baunya.
Rasulullah mendekap Zahir dari belakang. Ia gelagapan karena tidak bisa melihat siapa yang mendekapnya. Ia tidak tahu siapa orang yagn di belakangnya.
"Lepaskan aku. Siapa ini ?" kata Zahir memberontak.
Nabi tidak juga buka suara.
Zahir terus meronta dan berusaha melepaskan diri. Ia pun menoleh ke belakang. Melihat Nabi, Zahir langsung merasa lega. Ketakutannya berangsur hilang. Setelah mengetahui siapa yang mendekapnya dari belakang, Zahir menyandarkan punggungnya ke dada Rasulullah. Nabi menggoda Zahir dengan berteriak, "Siapa yang mau beli budak ? Siapa yang mau beli budak ?"
Zahir mengamati keadaan dirinya. Ia sadar dirinya miskin dan malang, tidak punya harta dan ketampanan. Ia berkata, "Jadi, demi Tuhan engkau mendapatiku begitu hina, wahai Rasulullah ?"
"Di mata Allah engkau tidaklah hina. Engkau begitu berharga," jawab Rasulullah.
Semoga senyum yang terkulum di bibir orang miskin mengangkatmu beberapa derajat di sisi Allah.
SAW. Jika hendak menemui keluarga, Rasulullah menyiapkan itu dengan kurma dan sebagainya. Nabi menyukainya. Beliau bersabda, "Zahir itu orang kampung kita, dan kita akan membuatnya berperadaban." Zahir seorang yang dekil.
Suatu hari, Zahir keluar dari kampungnya. Ia mendatangi rumah Rasulullah, tetapi tidak mendapati beliau. Karena saat itu sedang membawa barang-barang dagangan, ia akhirnya pergi ke pasar.
Mengetahui hal itu, Nabi menyusul ke pasar dan mencarinya. Zahir dijumpai tengah menjual barang-barang dagangannya. keringat bercucuran. Pakaian yang dikenakan mencirikan orang kampung, baik dari bentuk maupun baunya.
Rasulullah mendekap Zahir dari belakang. Ia gelagapan karena tidak bisa melihat siapa yang mendekapnya. Ia tidak tahu siapa orang yagn di belakangnya.
"Lepaskan aku. Siapa ini ?" kata Zahir memberontak.
Nabi tidak juga buka suara.
Zahir terus meronta dan berusaha melepaskan diri. Ia pun menoleh ke belakang. Melihat Nabi, Zahir langsung merasa lega. Ketakutannya berangsur hilang. Setelah mengetahui siapa yang mendekapnya dari belakang, Zahir menyandarkan punggungnya ke dada Rasulullah. Nabi menggoda Zahir dengan berteriak, "Siapa yang mau beli budak ? Siapa yang mau beli budak ?"
Zahir mengamati keadaan dirinya. Ia sadar dirinya miskin dan malang, tidak punya harta dan ketampanan. Ia berkata, "Jadi, demi Tuhan engkau mendapatiku begitu hina, wahai Rasulullah ?"
"Di mata Allah engkau tidaklah hina. Engkau begitu berharga," jawab Rasulullah.
Semoga senyum yang terkulum di bibir orang miskin mengangkatmu beberapa derajat di sisi Allah.
Sabtu, 22 Mei 2010
KEMBARA DI TEPI SENJA
Bertahun kau arungi
Luas samudra tak bertepi
Demi membangun menara mimpi
melawan kata hati, abaikan bisik nurani
Tak perduli
Meski ayunanmu sudah terlihat letih
Sementara dermaga tak jua kau temui
Kembara.....
Kemana lagi menacari
Sedang asa terbang begitu tinggi
Ke ujung dunia.....ah! tak lagi berarti
Kembali.....dan berserahlah
Percaya pada takdir Ilahi
Yakinlah.....rizki telah terbagi
Mengapa di ingkari ?
Kembara.....
Di belahan bumi ini
Tak ada cita-cita yang tergapai
Satu tergenggam yang lain menari-nari
Menggoda dan menggoda lagi
Coba.....sejenak menatap
Selembar cermin
Pastilah kejujuran tergambar jelas
Betapa lelah jiwa raga
Kembara.....perlahan pasti.....
Usia menapak senja
Saatnya melepas ambisi nan meraja
Mengabdi pada Allah semata
Adalah bijaksana
Sebelum guratan sesal yang tertinggal
Kembara.....kau dengar
Adzan merdu menggema
Mari bersama
Bersujud mohon ridho-Nya
Berharap kelak kan berjumpa
Lautan nikmat yang sesungguhnya*
karya Ahmad Ridwan
Luas samudra tak bertepi
Demi membangun menara mimpi
melawan kata hati, abaikan bisik nurani
Tak perduli
Meski ayunanmu sudah terlihat letih
Sementara dermaga tak jua kau temui
Kembara.....
Kemana lagi menacari
Sedang asa terbang begitu tinggi
Ke ujung dunia.....ah! tak lagi berarti
Kembali.....dan berserahlah
Percaya pada takdir Ilahi
Yakinlah.....rizki telah terbagi
Mengapa di ingkari ?
Kembara.....
Di belahan bumi ini
Tak ada cita-cita yang tergapai
Satu tergenggam yang lain menari-nari
Menggoda dan menggoda lagi
Coba.....sejenak menatap
Selembar cermin
Pastilah kejujuran tergambar jelas
Betapa lelah jiwa raga
Kembara.....perlahan pasti.....
Usia menapak senja
Saatnya melepas ambisi nan meraja
Mengabdi pada Allah semata
Adalah bijaksana
Sebelum guratan sesal yang tertinggal
Kembara.....kau dengar
Adzan merdu menggema
Mari bersama
Bersujud mohon ridho-Nya
Berharap kelak kan berjumpa
Lautan nikmat yang sesungguhnya*
karya Ahmad Ridwan
bodong
arak dengan senine semame...
kejengken ne bersenggama...imene begolam-golam
ketoanne sinene..
sayang makat susun bi kebelek ne..??lagu' susun bi bawak taok ne endah...!!!
terus...bejawab senine ne....
godek side....kebot ku belek no....!!!!!
sekian dan terima kasih
karya H.Badrul...
kejengken ne bersenggama...imene begolam-golam
ketoanne sinene..
sayang makat susun bi kebelek ne..??lagu' susun bi bawak taok ne endah...!!!
terus...bejawab senine ne....
godek side....kebot ku belek no....!!!!!
sekian dan terima kasih
karya H.Badrul...
Kamis, 20 Mei 2010
jangan didik anakmu
Jangan didik anakmu laki-laki
Bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya
Ajari dia untuk mencintai dan menerima
dirinya apa adanya
Jangan didik anakmu laki-laki
Untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan
Ajari dia tuk mengejar cinta kasih dan
kebijaksanaan
Jangan larang anakmu laki-laki jika ia menangis
Dan jangan katakan padanya bahwa laki-laki tak boleh cengeng
Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya
Bahwa air mata adalah anugrah Tuhan yang indah
Sehingga ia belajar unutk tidak frustasi oleh emosinya
Dan jika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya
Jangan didik anakmu perempuan
Bagaimana menjadi cantik
Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya
Jangan didik anakmu perempuan
Bagaimana untuk menyenangkan laki-laki
Ajari dia untuk menyenangkan hati Tuhan
Jangan larang anakmu perempuan
Jika ia menikmati melompat, berlari dan memanjat
Jika ia sudah menjelajah dan mengutak-atik benda
Jangan kau paksa dia untuk duduk manis, diam dan tenang
Karena jiwanya yang ingin bebas jadi dirinya sendiri
Dan rasa ingin tahunya yang telah Tuhan anugrahkan
Telah kau bonsai dan kau rusak sejak dini
Isilah rumahmu
dengan cinta, hikmat dan kebijaksanaan
Bukan dengan harta, gelar dan kekuasaan
Bagikanlah kepada anakmu laki-laki dan perempuan
Keindahan menikmati mentari pagi
Kehangatan rasa ketika menggemgam pasir
Kemesraan seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga
Dan merdunya suara tetes-tetes hujan
Jika kau ingin anakmu rajin beribadah
Gemakan keberadaan Tuhan dalam dirimu
Ia takkan bisa kau paksa berdo'a dan sembahyang
ketika dia tidak dapat menangkapmakna ibadah darimu
Jika kau ingin anakmu mencintai pengetahuan
Pancarkan rasa ingin terus belajar
Nasihatmu tak akan membuatnya mau membaca
Ketika dia tak pernah meyaksikan engau menikmati buku
Jika kau ingin anakmu penuh kasih
tunjukkan cinta kasihmu kepadanya dan sesama
Kata-kata saja tidak akan mempan membuatnya mengasihi
Jika ia tak pernah merasakan cinta darimu
Untuk anakmu
Engkau adalah teladan yang utama
Tak perlu banyak kata, tiada perlu jutaan nasihat
Jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kau inginkan
hiduplah demikian
Wallaahu a'lam bisshawab
karya Ibu Yasmin Sahab.
Bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya
Ajari dia untuk mencintai dan menerima
dirinya apa adanya
Jangan didik anakmu laki-laki
Untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan
Ajari dia tuk mengejar cinta kasih dan
kebijaksanaan
Jangan larang anakmu laki-laki jika ia menangis
Dan jangan katakan padanya bahwa laki-laki tak boleh cengeng
Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya
Bahwa air mata adalah anugrah Tuhan yang indah
Sehingga ia belajar unutk tidak frustasi oleh emosinya
Dan jika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya
Jangan didik anakmu perempuan
Bagaimana menjadi cantik
Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya
Jangan didik anakmu perempuan
Bagaimana untuk menyenangkan laki-laki
Ajari dia untuk menyenangkan hati Tuhan
Jangan larang anakmu perempuan
Jika ia menikmati melompat, berlari dan memanjat
Jika ia sudah menjelajah dan mengutak-atik benda
Jangan kau paksa dia untuk duduk manis, diam dan tenang
Karena jiwanya yang ingin bebas jadi dirinya sendiri
Dan rasa ingin tahunya yang telah Tuhan anugrahkan
Telah kau bonsai dan kau rusak sejak dini
Isilah rumahmu
dengan cinta, hikmat dan kebijaksanaan
Bukan dengan harta, gelar dan kekuasaan
Bagikanlah kepada anakmu laki-laki dan perempuan
Keindahan menikmati mentari pagi
Kehangatan rasa ketika menggemgam pasir
Kemesraan seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga
Dan merdunya suara tetes-tetes hujan
Jika kau ingin anakmu rajin beribadah
Gemakan keberadaan Tuhan dalam dirimu
Ia takkan bisa kau paksa berdo'a dan sembahyang
ketika dia tidak dapat menangkapmakna ibadah darimu
Jika kau ingin anakmu mencintai pengetahuan
Pancarkan rasa ingin terus belajar
Nasihatmu tak akan membuatnya mau membaca
Ketika dia tak pernah meyaksikan engau menikmati buku
Jika kau ingin anakmu penuh kasih
tunjukkan cinta kasihmu kepadanya dan sesama
Kata-kata saja tidak akan mempan membuatnya mengasihi
Jika ia tak pernah merasakan cinta darimu
Untuk anakmu
Engkau adalah teladan yang utama
Tak perlu banyak kata, tiada perlu jutaan nasihat
Jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kau inginkan
hiduplah demikian
Wallaahu a'lam bisshawab
karya Ibu Yasmin Sahab.
Rabu, 19 Mei 2010
nikmatilah
Ali ibn Al-Jahm adalah penyair yang fasih. Namun, ia juga orang arab yang kasar. Yang ia kenal dari kehidupan hanyalah yang terliaht di hamparan sahara. Di sisi lain, Al-Mutawakkil adalah khalifah yang cakap. Ia biasa di jamu makanan dan di tenangkan dengan hal-hal yang di sukainya.
Suatu hari, Ali ibn al-jahm datang ke kota baghdad. Seseorang berkata padanya, "Barang siapa memuji khalifah, ia di perkenankan tinggal bersamanya. Selain itu, ia juga akan mendapatkan banyak hadiah darinya."
Ali tampak bahagia. Ia pun menuju istana untuk menemui al-Mutawakkil. Di sana ia melihat beberapa penyair bersenandung dan mendapat keuntungan. Al-Mutawakkil tetaplah Al-Mutawakkil; keras, di takuti dan otoriter, Ali berkesempatan memuji khalifah dengan kasidahnya:
Engkau laksana anjing dalam berjaga, seperti bandot dalam memelatuki kayu
engkau laksana ember. Aku tidak kehilanganmu sebagai ember, di antara ember-ember besar dengan banyak tangkai
Ali terus mengumpamakan khalifah dengan bandot, kambing, sumur dan tanah, setelah mengumpamakannya dengan matahari, bulan dan gunung.
Sang khalifah geram. Para penjaga istana bangkit, pedang di keluarkan dari sarungnya, permadani di hamparkan. Peperangan di siagakan. Beruntung sang khalifah segera sadar bahwa Ali ibn al-Jahm telah di kuasai tabiatnya. Karena itu, ia bermaksud mengubahnya. maka, ia perintahkan agar Ali di suruh tinggal di istananya yang mewah. Para dayang tercantik menjamunya makan. selian itu, ia di buat senang dengan hal-hal yang di sukainya.
Ali ibn al-jahm menyesap kenikmatan, ia bertelekan di atas dipan, duduk bersama para penyair dan saatrawan ternama. Begitulah ia menjalani hidup selama tujuh bulan.
Suatu ketika, sang khalifah sedang duduk santai pada malam hari. pada saat itu, ia teringat pada Ali ibn al-Jahm, ia menanyakannya, lalu memanggilnya supaya menghadap.
Setelah Ali datang, khalifah berkata, "Bacakan untukku syair-syairmu, wahai Ali."
Ali pun bersenandung :
Mata orang yang di takuti begitu kuat dan berani
Menumbuhkan keinginan dari yang kutahu dan tidak kumengerti
Bagiku ia menggali kerinduan lama
Aku tidak melupakannya
Melainkan ia sulutkan api di atas api
Ia terus melantunkan syair dengan gubahan kata yang sangat menyentuh. Kemudian ia sifati
Khalifah sebagai matahari, bintang dan pedang.
Tentu akan lebih baik jika engkau mampu mengubah tabiatmu sendiri, dari yang semula murung
menjadi ceria, semula pemarah menjadi penyabar, dan dari yang semula kikir menjadi dermawan.
Ini tidak sulit, tetapi jelas membutuhkan keinginan yang kuat dan praktik. jadilah engkau sang juara.
Dari pada mencaci maki kegelapan, lebih baik memperbaiki penerangan.
Selasa, 18 Mei 2010
Palesteen....
Allhumma birahmata astagis...ya hayyu ya qayyum...ya araham raahimin...ya akramal akramin..Allahummansur islaama wal muslimien...Allahumma agis atfaala palesteen...Allahumma istajieb du'aana...hasbunALLah wani'mal wakiel...
Senin, 17 Mei 2010
cR adalah segalanya

Suatu ketika, ketika pasukan Rasulullah SAW pulang dari perang badar, ada seorang wanita yang suami, anak dan saudaranya ikut berperang, wanita itu pun menyambut kepulangan pasukan dan kemudian bertanya kepada mereka : "Apakah RAsulullah selamat ?"
Salah seorang dari mereka lantas berkata : "Saudaramu meninggal dalam pertempuran."
Wanita itu kurang peduli dengan berita kematian saudaranya itu dan kembali bertanya : "lalu bagaimana dengan Rasulullah?"
"Beliau selamat."
"Mana beliau ? Aku belum tenang sebelum melihat beliau dengan kedua mataku sendiri."
Wanita itupun menerobos kerumunan pasukan seraya setelah beberapa langkah, ia dihadang oleh seseorang, orang itu menyapanya dengan nada iba, kemudia ia berkata : "Tabahkanlah hatimu, aku melihat suamimu meninggal dalam pertempuran."
Wanita itu juga kurang peduli dengan berita duka itu, ia justru bertanya "bagaimana dengan Rasulullah ? Beliau selamat, kan ?"
"Beliau selamat."
"Mana beliau ? Aku belum tenang sebelum melihat beliau."
Wanita itupun kembali menerobos kerumunan pasukan seraya berteriak "mana Rasulullah ?", setelah beberapa langkah, iapun ia dihadang lagi oleh seseorang, oran gitu meyapanya dengan nada iba dan berkata : "Tabahkanlah hatimu, aku melihat anakmu gugur di tangan musuh."
Wanita itu terus menerobos pasukan hingga tidak lama kemudian iapun menemukan Rasulullah, dan ia dapati beliau dalam keadaan baik-baik saja, maka iapun berucap dengan keras : "Alhamdulillah, selama Rasulullah sehat wal-afiyat maka musibah apapun tidaklah terasa berat."
Mencari Leluhur

Dua malam berturut-turut, yakni pada malam dua versi Idul Fitri, Markesot menghilang. Tidak ikut melembur takbiran, baik di mushalla sebelah maupun markas KPMb.
sebenarnya sejak beberapa hari sebelum lebaran, beberapa kawan pernah ngonangi Markesot rengeng-rengeng takbiran. Aneh. Wong masih Ramadhan kok takbiran. Ketika ada yang menegur dan mempertanyakannya, Markesot menjawab : "Apanya yang aneh ? yang takbiran itu bukan mulut saya, melainkan jiwa saya. Kalu mulut dan badan saya terikat oleh perbedaan antara kemarin, hari ini, dan besok pagi. Badan saya butuh makan hari ini meskipun kemarin sudah makan. Tapi kalau jiwa saya bisa melintasi waktu, kebelakang mau pun kedepan. Jadi jiwa saya bisa saja mampir sebentar pada seminggu yang akan datang, sehingga dia bertakbiran...."
Opo maneh iku!...celetuk kawan-kawannya.
tapi memang benar ketika takbiran diam-diam itu wajah Markesot tampak sangat serius, matanya agak meredup, dan seakan-akan mau menangis. Dan diam-diam yang mendengarkan juga ikut merinding.
"Jadi kalau jiwamu sudah mampir di hari Idul Fitri, apa lantas tidak puasa ?"
"Badan saya tetap puasa selama Ramadhan. Kalau jiwa saya puasa terus-menerus dan ber-Idul Fitri terus-menerus. Jiwa saya berlebaran tidak setahun sekali, melainkan tergantung pada pencapaian sempurnanya puasa yang ia lakukan. Terkadang beberapa jam sekali, terkadang beberapa hari, atau beberapa minggu sekali."
Ah, pusing mendengarkan omongan wong ngengleng macam Markesot ini. Orang kok tidak lumrah.
Ada yang ngonangi markesot jalan kaki di suatu gang di tengah perkotaan surabaya. Ada juga yang malam itu ketemu dia di suatu gardu. Lainnya malah melihat dia di pantai. Tapi ketika disapa, Markesot diam saja. Telinganya seperti tak mendengar apa-apa. Sorot matanya menggambarkan bahwa ia sibuk dengan sesuatu hal yang orang lain tidak tahu. Entah "berada di mana" Markesot malam-malam itu.
Tapi ia nongol juga tatkala sembahyangan. Dan sesudah sibuk halal bihalal, maaf-maafan dengan siapa pun saja yang ia jumpai, Markesot sibuk di markas KPMb, membaca berkas-berkas.
"Apa itu, Sot ?"
"Pohon Sejarah,"jawabnya.
ada berlembar-lembar kertas kuno, dengan tulisan Arab pegon, yang tampaknya berisi silsilah yang bermacam-macam. Ada nama-nama Walisongo, sejumlah tokoh Majapahit, cirebon, Gontor, dan Kasanbesari gurunya Ronggowarsito. Ada Ki Ageng Selo. Ada menantunya Joko Tingkir. Ada syeikh Jumadil Kubro. Ada keluarga imam Zahid, bani Kiai Muhammad Ali, klan Tebu Ireng, pendekar-pendekar asal-usul pencak Tapak Suci. Cabang-cabangnya macam-macam dan banyak sekali. Ada lingkaran tanpa nama, hanya berisi tanda tanya, tetapi ada penjelasan itulah wali mastur, wali pingit yang belum di ketahui namanya, namun beliaulah yang meyusun policy dan konsep kerajaan Mataram, meskipun akhirnya kerajaan itu berlangsung tidak seperti yang di konsepkan. Pada beliau pulalah termuat rahasia rahasia berdirinya Kabupaten Jombang, yang dulunya hanya merupakan bagian dari Mojokerto pasca Majapahit. Oh, jombang kota yang berisi korak-korak, bandit-bandit, pentholan-pentholan, yang akhirnya di taklukkan oleh sang Imam dengan bantuan bupati Sedayu. Ada juga Sunan Kali Jaga yang sunni-syafi'i, Sunan Kudus yang syi'ah, Sunan bonang yang Hanafi, dan macam-macam lagi.
Aneh-aneh bahkan di puncaknya ada nama Rasulullah Muhammad. Ada cikal-bakal syi'ah, tatkala belum menjadi teo-ideologi seperti sekarang. Lantas ada juga nama Markesot di situ, satu titik yang termuat dalam lingkaran "paman"nya kelas Gud Durrahman Wahid.
"Laisal fata man yaqulu kana abi, walakinnal fata man yaqulu ha anadza!," Sindir seorang kawan, "Pemuda bukanlah seseorang yang berbangga,, "ini lo leluhur saya!", melainkan yang berkata "ini dadaku!"
"Memang kalau hari raya begini famili-famili pada sibuk mengurus pohon silsilah mereka," ujar kawan yang lain, "Pokoknya setiap orang ingin memperoleh kejelasan bahwa dia adalah keturunan Nabi Muhammad."
"Padahal Tuhan dan para malaikat petugas kelak tidak akan pernah menanyakan engkau turunan siapa, melainkan apa yang engkau perbuat di dunia!" teman lainnya lagi menambah. Lama-lama Markesot menjawab juga.
"Memang terserah saya ini keturuna Sakerah, brodin, Arya Penangsang, Ronggolawe, ataukah Abu Lahab," katanya, bukan itu yang penting. Saya hanya ingin mencari diri saya sendiri. Hidup sekarang tidak dimulai pada detik tatkala ia lahir atau ketika mulai menjadi janin. Sebab janin itu produk saja dari suatu sejarah yang panjang dengan watak dan katuranggan-nya sendiri. Hidup seseorang-sebagai watak, kecendrungan, takdir, atau model nasib-di mulai jauh sebelum sebelu ia berasal-usul untuk ada secara fisik. Saya berusaha secara fisik. saya berusaha mengenali leluhur saya agar saya mengerti kenapa saya punya kecendrungan-kecendrungan hidup seperti yang saya kenali dan saya alami sekarang. Mangga beranak mangga dan jambu beranak jambu. dengan mengetahui "jambu" saya di masa silam, saya menjadi punya pengetahuan psiko-genekologis yang bermanfaat untuk lebih menata diri saya sendiri. Tuhan memiliki kehendak-kehendak yang berbeda-beda atas setiap orang. Tuha punya kehendak atas hidup saya, oleh karena itu saya di letakkan dalam garis tertentu, ".sehingga yang harus saya lakukan adalah menyesuaikan kehendak saya dengan kehendak-Nya."
"jadi apakah sudah ketemu bahwa kau ini sebenarnya memang keturunan wong gendheng ?"
"Lebih dari gendheng. Saya adalah keturunan manusia serbuk yang tak berwajah, yang hidup di belakang layar, yang menafikkan eksistensi, tetapi menyipati pohon-pohon. Saya jadi paham kenapa saya punya kecendrungan untuk membuang-buang diri, sebab gen saya memang begitu. Saya tidak mau membanggakan, tetapi saya butuh pengetahuan tentang uswah hasanah leluhur. Buyut saya mendirikan tujuh masjid besar di berbagai daerah dengan uang pribadi, dan ternyata saya hanya seorang gelandangan..."!!!
mereka tidak akan mengambil manfaat
Sebaris SMS masuk ke dalam ponselku. pesan itu berbunyi: Wahai Syeikh, apa hukumnya bunuh diri ?
Mendapat pertanyaan seperti itu, aku langsung menghubungi pengirim SMS itu. Di seberang seorang remaja menjawabnya.
Kukatakan padanya, "ma'af, aku tidak mengertipertanyaanmu. Coba ulangi sekali lagi!"
Dengan tegas remaja itu menjawab, "Pertanyannya cukup jelas; apa hukumnya bunuh diri ?"
Aku ingin membuatnya terhentak dengan jawaban yang tidak di sangka-sangka. Kukatakan, "Mustahabb (dianjurkan)."
"Apa?!" sergah remaja itu terheran-heran.
"Bagaimana kalau kita bekerja sama dalam menentukan cara yang bisa engkau tempuh untuk bunuh diri?" kataku enteng.
Remaja di seberang sana tak bersuara.
"Baik," kataku, "sebenarnya mengapa engkau ingin bunuh diri?"
"Karena aku tidak dapat kerja," jawabnya lirih. "Orang-orang tidak menyukaiku. Jadi, jelas sekali aku ini orang yang gagal." Selanjutnya, ia bercerita kepadaku panjang-lebar tentang kegagalannya mengembangkan diri, termasuk ketidak siapannya memanfaatkan potensinya.
Inilah bencana yang banyak menimpa orang.
Mengapa di antara kita ada orang yang memandang dirinya begitu rendah ?
mengapa ia sapukan pandangan pada orang-orang yang berdiri di puncak gunung dan memandang dirinya sendiri tidak mampu mencapai ketinggian seperti mereka ? Atau paling tidak bisa mendaki seumpama mereka ?
Barang siapa gagal mendaki gunung
Hiduplah ia di tengah jurang selamanya
Langganan:
Postingan (Atom)
