Pages

Rabu, 19 Mei 2010

nikmatilah


Ali ibn Al-Jahm adalah penyair yang fasih. Namun, ia juga orang arab yang kasar. Yang ia kenal dari kehidupan hanyalah yang terliaht di hamparan sahara. Di sisi lain, Al-Mutawakkil adalah khalifah yang cakap. Ia biasa di jamu makanan dan di tenangkan dengan hal-hal yang di sukainya.
Suatu hari, Ali ibn al-jahm datang ke kota baghdad. Seseorang berkata padanya, "Barang siapa memuji khalifah, ia di perkenankan tinggal bersamanya. Selain itu, ia juga akan mendapatkan banyak hadiah darinya."
Ali tampak bahagia. Ia pun menuju istana untuk menemui al-Mutawakkil. Di sana ia melihat beberapa penyair bersenandung dan mendapat keuntungan. Al-Mutawakkil tetaplah Al-Mutawakkil; keras, di takuti dan otoriter, Ali berkesempatan memuji khalifah dengan kasidahnya:

Engkau laksana anjing dalam berjaga, seperti bandot dalam memelatuki kayu
engkau laksana ember. Aku tidak kehilanganmu sebagai ember, di antara ember-ember besar dengan banyak tangkai

Ali terus mengumpamakan khalifah dengan bandot, kambing, sumur dan tanah, setelah mengumpamakannya dengan matahari, bulan dan gunung.
Sang khalifah geram. Para penjaga istana bangkit, pedang di keluarkan dari sarungnya, permadani di hamparkan. Peperangan di siagakan. Beruntung sang khalifah segera sadar bahwa Ali ibn al-Jahm telah di kuasai tabiatnya. Karena itu, ia bermaksud mengubahnya. maka, ia perintahkan agar Ali di suruh tinggal di istananya yang mewah. Para dayang tercantik menjamunya makan. selian itu, ia di buat senang dengan hal-hal yang di sukainya.
Ali ibn al-jahm menyesap kenikmatan, ia bertelekan di atas dipan, duduk bersama para penyair dan saatrawan ternama. Begitulah ia menjalani hidup selama tujuh bulan.
Suatu ketika, sang khalifah sedang duduk santai pada malam hari. pada saat itu, ia teringat pada Ali ibn al-Jahm, ia menanyakannya, lalu memanggilnya supaya menghadap.
Setelah Ali datang, khalifah berkata, "Bacakan untukku syair-syairmu, wahai Ali."
Ali pun bersenandung :
Mata orang yang di takuti begitu kuat dan berani
Menumbuhkan keinginan dari yang kutahu dan tidak kumengerti
Bagiku ia menggali kerinduan lama
Aku tidak melupakannya
Melainkan ia sulutkan api di atas api

Ia terus melantunkan syair dengan gubahan kata yang sangat menyentuh. Kemudian ia sifati
Khalifah sebagai matahari, bintang dan pedang.

Tentu akan lebih baik jika engkau mampu mengubah tabiatmu sendiri, dari yang semula murung
menjadi ceria, semula pemarah menjadi penyabar, dan dari yang semula kikir menjadi dermawan.
Ini tidak sulit, tetapi jelas membutuhkan keinginan yang kuat dan praktik. jadilah engkau sang juara.

Dari pada mencaci maki kegelapan, lebih baik memperbaiki penerangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Powered by Blogger