Anas ra. berkata, "Ada orang dari pedalaman bernama Zahir ibn Haram. Ia datang ke Madinah untuk suatu kebutuhan. Dari kampung ia bawakan keju atau samin untuk Rasulullah
SAW. Jika hendak menemui keluarga, Rasulullah menyiapkan itu dengan kurma dan sebagainya. Nabi menyukainya. Beliau bersabda, "Zahir itu orang kampung kita, dan kita akan membuatnya berperadaban." Zahir seorang yang dekil.
Suatu hari, Zahir keluar dari kampungnya. Ia mendatangi rumah Rasulullah, tetapi tidak mendapati beliau. Karena saat itu sedang membawa barang-barang dagangan, ia akhirnya pergi ke pasar.
Mengetahui hal itu, Nabi menyusul ke pasar dan mencarinya. Zahir dijumpai tengah menjual barang-barang dagangannya. keringat bercucuran. Pakaian yang dikenakan mencirikan orang kampung, baik dari bentuk maupun baunya.
Rasulullah mendekap Zahir dari belakang. Ia gelagapan karena tidak bisa melihat siapa yang mendekapnya. Ia tidak tahu siapa orang yagn di belakangnya.
"Lepaskan aku. Siapa ini ?" kata Zahir memberontak.
Nabi tidak juga buka suara.
Zahir terus meronta dan berusaha melepaskan diri. Ia pun menoleh ke belakang. Melihat Nabi, Zahir langsung merasa lega. Ketakutannya berangsur hilang. Setelah mengetahui siapa yang mendekapnya dari belakang, Zahir menyandarkan punggungnya ke dada Rasulullah. Nabi menggoda Zahir dengan berteriak, "Siapa yang mau beli budak ? Siapa yang mau beli budak ?"
Zahir mengamati keadaan dirinya. Ia sadar dirinya miskin dan malang, tidak punya harta dan ketampanan. Ia berkata, "Jadi, demi Tuhan engkau mendapatiku begitu hina, wahai Rasulullah ?"
"Di mata Allah engkau tidaklah hina. Engkau begitu berharga," jawab Rasulullah.
Semoga senyum yang terkulum di bibir orang miskin mengangkatmu beberapa derajat di sisi Allah.
Sabtu, 29 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar