Sebaris SMS masuk ke dalam ponselku. pesan itu berbunyi: Wahai Syeikh, apa hukumnya bunuh diri ?
Mendapat pertanyaan seperti itu, aku langsung menghubungi pengirim SMS itu. Di seberang seorang remaja menjawabnya.
Kukatakan padanya, "ma'af, aku tidak mengertipertanyaanmu. Coba ulangi sekali lagi!"
Dengan tegas remaja itu menjawab, "Pertanyannya cukup jelas; apa hukumnya bunuh diri ?"
Aku ingin membuatnya terhentak dengan jawaban yang tidak di sangka-sangka. Kukatakan, "Mustahabb (dianjurkan)."
"Apa?!" sergah remaja itu terheran-heran.
"Bagaimana kalau kita bekerja sama dalam menentukan cara yang bisa engkau tempuh untuk bunuh diri?" kataku enteng.
Remaja di seberang sana tak bersuara.
"Baik," kataku, "sebenarnya mengapa engkau ingin bunuh diri?"
"Karena aku tidak dapat kerja," jawabnya lirih. "Orang-orang tidak menyukaiku. Jadi, jelas sekali aku ini orang yang gagal." Selanjutnya, ia bercerita kepadaku panjang-lebar tentang kegagalannya mengembangkan diri, termasuk ketidak siapannya memanfaatkan potensinya.
Inilah bencana yang banyak menimpa orang.
Mengapa di antara kita ada orang yang memandang dirinya begitu rendah ?
mengapa ia sapukan pandangan pada orang-orang yang berdiri di puncak gunung dan memandang dirinya sendiri tidak mampu mencapai ketinggian seperti mereka ? Atau paling tidak bisa mendaki seumpama mereka ?
Barang siapa gagal mendaki gunung
Hiduplah ia di tengah jurang selamanya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar