Pages

Senin, 17 Mei 2010

Mencari Leluhur


Dua malam berturut-turut, yakni pada malam dua versi Idul Fitri, Markesot menghilang. Tidak ikut melembur takbiran, baik di mushalla sebelah maupun markas KPMb.
sebenarnya sejak beberapa hari sebelum lebaran, beberapa kawan pernah ngonangi Markesot rengeng-rengeng takbiran. Aneh. Wong masih Ramadhan kok takbiran. Ketika ada yang menegur dan mempertanyakannya, Markesot menjawab : "Apanya yang aneh ? yang takbiran itu bukan mulut saya, melainkan jiwa saya. Kalu mulut dan badan saya terikat oleh perbedaan antara kemarin, hari ini, dan besok pagi. Badan saya butuh makan hari ini meskipun kemarin sudah makan. Tapi kalau jiwa saya bisa melintasi waktu, kebelakang mau pun kedepan. Jadi jiwa saya bisa saja mampir sebentar pada seminggu yang akan datang, sehingga dia bertakbiran...."
Opo maneh iku!...celetuk kawan-kawannya.
tapi memang benar ketika takbiran diam-diam itu wajah Markesot tampak sangat serius, matanya agak meredup, dan seakan-akan mau menangis. Dan diam-diam yang mendengarkan juga ikut merinding.
"Jadi kalau jiwamu sudah mampir di hari Idul Fitri, apa lantas tidak puasa ?"
"Badan saya tetap puasa selama Ramadhan. Kalau jiwa saya puasa terus-menerus dan ber-Idul Fitri terus-menerus. Jiwa saya berlebaran tidak setahun sekali, melainkan tergantung pada pencapaian sempurnanya puasa yang ia lakukan. Terkadang beberapa jam sekali, terkadang beberapa hari, atau beberapa minggu sekali."
Ah, pusing mendengarkan omongan wong ngengleng macam Markesot ini. Orang kok tidak lumrah.
Ada yang ngonangi markesot jalan kaki di suatu gang di tengah perkotaan surabaya. Ada juga yang malam itu ketemu dia di suatu gardu. Lainnya malah melihat dia di pantai. Tapi ketika disapa, Markesot diam saja. Telinganya seperti tak mendengar apa-apa. Sorot matanya menggambarkan bahwa ia sibuk dengan sesuatu hal yang orang lain tidak tahu. Entah "berada di mana" Markesot malam-malam itu.
Tapi ia nongol juga tatkala sembahyangan. Dan sesudah sibuk halal bihalal, maaf-maafan dengan siapa pun saja yang ia jumpai, Markesot sibuk di markas KPMb, membaca berkas-berkas.
"Apa itu, Sot ?"
"Pohon Sejarah,"jawabnya.
ada berlembar-lembar kertas kuno, dengan tulisan Arab pegon, yang tampaknya berisi silsilah yang bermacam-macam. Ada nama-nama Walisongo, sejumlah tokoh Majapahit, cirebon, Gontor, dan Kasanbesari gurunya Ronggowarsito. Ada Ki Ageng Selo. Ada menantunya Joko Tingkir. Ada syeikh Jumadil Kubro. Ada keluarga imam Zahid, bani Kiai Muhammad Ali, klan Tebu Ireng, pendekar-pendekar asal-usul pencak Tapak Suci. Cabang-cabangnya macam-macam dan banyak sekali. Ada lingkaran tanpa nama, hanya berisi tanda tanya, tetapi ada penjelasan itulah wali mastur, wali pingit yang belum di ketahui namanya, namun beliaulah yang meyusun policy dan konsep kerajaan Mataram, meskipun akhirnya kerajaan itu berlangsung tidak seperti yang di konsepkan. Pada beliau pulalah termuat rahasia rahasia berdirinya Kabupaten Jombang, yang dulunya hanya merupakan bagian dari Mojokerto pasca Majapahit. Oh, jombang kota yang berisi korak-korak, bandit-bandit, pentholan-pentholan, yang akhirnya di taklukkan oleh sang Imam dengan bantuan bupati Sedayu. Ada juga Sunan Kali Jaga yang sunni-syafi'i, Sunan Kudus yang syi'ah, Sunan bonang yang Hanafi, dan macam-macam lagi.
Aneh-aneh bahkan di puncaknya ada nama Rasulullah Muhammad. Ada cikal-bakal syi'ah, tatkala belum menjadi teo-ideologi seperti sekarang. Lantas ada juga nama Markesot di situ, satu titik yang termuat dalam lingkaran "paman"nya kelas Gud Durrahman Wahid.
"Laisal fata man yaqulu kana abi, walakinnal fata man yaqulu ha anadza!," Sindir seorang kawan, "Pemuda bukanlah seseorang yang berbangga,, "ini lo leluhur saya!", melainkan yang berkata "ini dadaku!"
"Memang kalau hari raya begini famili-famili pada sibuk mengurus pohon silsilah mereka," ujar kawan yang lain, "Pokoknya setiap orang ingin memperoleh kejelasan bahwa dia adalah keturunan Nabi Muhammad."
"Padahal Tuhan dan para malaikat petugas kelak tidak akan pernah menanyakan engkau turunan siapa, melainkan apa yang engkau perbuat di dunia!" teman lainnya lagi menambah. Lama-lama Markesot menjawab juga.
"Memang terserah saya ini keturuna Sakerah, brodin, Arya Penangsang, Ronggolawe, ataukah Abu Lahab," katanya, bukan itu yang penting. Saya hanya ingin mencari diri saya sendiri. Hidup sekarang tidak dimulai pada detik tatkala ia lahir atau ketika mulai menjadi janin. Sebab janin itu produk saja dari suatu sejarah yang panjang dengan watak dan katuranggan-nya sendiri. Hidup seseorang-sebagai watak, kecendrungan, takdir, atau model nasib-di mulai jauh sebelum sebelu ia berasal-usul untuk ada secara fisik. Saya berusaha secara fisik. saya berusaha mengenali leluhur saya agar saya mengerti kenapa saya punya kecendrungan-kecendrungan hidup seperti yang saya kenali dan saya alami sekarang. Mangga beranak mangga dan jambu beranak jambu. dengan mengetahui "jambu" saya di masa silam, saya menjadi punya pengetahuan psiko-genekologis yang bermanfaat untuk lebih menata diri saya sendiri. Tuhan memiliki kehendak-kehendak yang berbeda-beda atas setiap orang. Tuha punya kehendak atas hidup saya, oleh karena itu saya di letakkan dalam garis tertentu, ".sehingga yang harus saya lakukan adalah menyesuaikan kehendak saya dengan kehendak-Nya."
"jadi apakah sudah ketemu bahwa kau ini sebenarnya memang keturunan wong gendheng ?"
"Lebih dari gendheng. Saya adalah keturunan manusia serbuk yang tak berwajah, yang hidup di belakang layar, yang menafikkan eksistensi, tetapi menyipati pohon-pohon. Saya jadi paham kenapa saya punya kecendrungan untuk membuang-buang diri, sebab gen saya memang begitu. Saya tidak mau membanggakan, tetapi saya butuh pengetahuan tentang uswah hasanah leluhur. Buyut saya mendirikan tujuh masjid besar di berbagai daerah dengan uang pribadi, dan ternyata saya hanya seorang gelandangan..."!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Powered by Blogger